Sejarah

Beranda » Sejarah

Faham Muhammadiyah masuk ke  Babat  sekitar  tahun  1924  yang  dibawa  oleh Mochammad Shaleh santri  Kyai  Mas  Mansur  di  Surabaya.  Mochammad  Shaleh keturunan Madura  lahir  di  daerah  Ampel,  Surabaya,  tahun  1901.  Selain sebagai santri, dia sudah dianggap keluarga sendiri. Kedekatannya dengan  KH Mas Mansur itu membuatnya sempat bertemu dengan  KH  Ahmad  Dahlan.  Pemilik NBM (nomor baku  Muhammadiyah)  135.684  ini  tercatat  sebagai  anggota  di Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada  tanggal  12  Juli  1956.  Sehari-hari  dia adalah guru agama Islam dan guru ngaji di sekolah rakyat  (SR)—kini  sekolah dasar (SD).

Mochammad Shaleh tinggal di suatu Tegal Sari—sekarang Jalan  Gotong  Royong. Lokasinya bersebelahan dengan Rumah Sakit Muhammadiya Babat,  dekat  Stasiun Kereta Api Babat. Dia menempati tanah yang begitu luas.  Di  tempat  sinilah dia tinggal dan mendirikan Mushola Baithus Shalikhin sebagai pusat  kegiatan dakwah.  Mushala  itu  menjadi  tempat  mengaji  al-Quran,  pengajian   atau kegiatan   keagamaan   lainnya.   Sekaligus   tempat    menyebarkan    paham Muhammadiyah.

Perjalanan Muhammadiyah Babat dalam pertumbuhan  dan  perkembangannya  tidak terlepas dari pergolakan politik. Perkembangan Muhammadiyah di  Babat  lebih pesat seiring dengan bubarnya Partai Masyumi. Peran para mubaligh  dan  guru (alumni Mualimin Yogyakarta) sangat membantu  perkembangan  Muhammadiyah  di berbagai Cabang dan Ranting

Spirit berkembangnya Muhammadiyah di Babat tidak lepas dari  kedatangan  dua tokoh PP Muhammadiyah (KH. Jarnawi Hadikusumo dan KH. Zuhal Hadikusumo)  dan para guru/mubaligh dari Yogyakarta. Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang  pernah mengunjungi Babat antara lain KH. AR. Fahruddin,  KH.  Azhar  Basyir,  Prof. Dr. HM. Amien Ra’is dan Prof Haedar Nasher.

Kegiatan Muhammadiyah dibidang da’wah diadakan melalui  pengajian  pengajian yang dilakukan oleh. Mochammad Shaleh seorang guru SR  (sekarag  SD)  Negeri Babat, KH Amar Faqih dari Maskumambang,  KH Fadholi berasal dari  Sedayu  Gresik,   Kiai  Husnun  Ambar  dari Moropelang, Kiai Mustaqim Babat dan Kiai Nahrawi  dari  Pucakwangi.  Melalui pengajian pengajian tersebut  Muhammadiyah mulai dikenal dan  berkembang  di masyarakat walaupun pada mulanya mendapat reaksi keras dari masyarakat  yang berbeda pendapat dengan Muhammadiyah.

Secara organisatoris keberadaan Cabang  Muhammadiyah  Babat  belum  dikelola dengan  baik  dan  rapi.  Namun,  munculnya  beberapa  sekolah  Muhammadiyah akhirnya juga memacu berdirinya  kepanduan  Hizbul  Wathan  di  Babat,  pada tahun  1950-an  yang  dipelopori  pemuda  dan  pelajar   setempat.   Gerakan kepanduan  yang  dimotori  kaum  muda  ini  menjadi   lokomotif   penyebaran
Muhammadiyah di wilayah-wilayah lainnya

Penataan struktural secara organisatoris  oleh  Muhmmadiyah  Babat   dimulai dengan diterbitkan Surat Ketetapan nomor : 1007  /  B,  tanggal  15  Januari 1955  oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro. Sebelumnya,  pada  tahun 1950-1967 cabang-cabang  di  Kabupaten  Lamongan  berada  di  bawah  naungan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro,  sedangkan  sebelum  itu  ada  yang berada di bawah naungan Pimpinan Muhammadiyah Daerah/Cabang  Gresik.  Cabang Babat, meliputi Wilayah Pembantu Bupati Ngimbang. Mendapatkan pengesahan  PP Muhammadiyah berdasarkan nomor 1952 tertanggal 4 Pebruari 1962

Selanjutnya setelah Pimpinan Daerah  Muhammadiyah  Lamongan  resmi  berdiri, maka Pimpinan Cabang Muhammadiyah Babat mendapat pengesahan pendirian  organisasi berdasarkan SK PP  Muhammadiyah  nomor  M/03/1977  tertanggal  6  Dzulqoidah 1397/19 Oktober 1977.

Pimpinan Cabang Muhammadiyah Babat secara berturut turut diketuai

  1. Mochammad Shaleh (1959-1965),
  2. Adenan   Nurshodiq (1965-1970),
  3. Syafi’i  Hasyim (1970-1975),
  4. H. M Saechan (1975 -1980), (1980-1985), (1986 -1990),
  5. H. A Zaenuri  (1991-1995), (1995-2000),
  6. H. Noer Chozin (2000-2005),
  7. H. A Zaenuri (2006-2010),
  8. Drs. H. Abdul Ghoffar, MM. (2010-2015), 2015-2022),
  9. H. Ahmad Arif Rahman Saidi, SE, ME. (2022-sekarang)

Pada awal berdirinya  sampai  pada  tahun  1980,  keadministrasian  terutama surat menyurat dilakukan secara apa adanya  dengan  memakai  rumah  pengurus sebagai  sekretariat  baru  pada  masa  HM  Saechan  tahun  1980   dilakukan pengadaan kantor sekretariat dengan menempati salah satu  ruangan  di  Balai Kesehatan Islam Muhammadiyah Babat yang sekaligus sebagai ruang pertemuan. Dalam perkembangan selanjutnya dengan  semakin  banyaknya  amal  usaha  yang
dikelola oleh Pimpinan Cabang  Muhammadiyah  Babat  diperlukan  kantor  yang cukup representatif melayani kegiatan  amal  usaha  dan  Ranting  di  Cabang Babat.

Pada tahun 2006 Pimpinan Cabang Muhammadiyah Babat  dapat  membangun  Gedung Dakwah  diatas  tanah  wakaf  Ibu  Fauziyah  di  Jalan  Pramuka  202  Babat. Peresmiannya dilakukan Prof. Dr.  H.  M.  Din  Syamsudin,  MA.,  Ketua  Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada tanggal 15 Februari 2007.

Sampai saat ini Pimpinan  Cabang Muhammadiyah Babat memiliki 22 Ranting  dan mengelola berbagai bidang amal usaha  antara lain : 24 Masjid, 24  Musholla, 23 TPQ, 2 Madin, 14 TK, 14  Play-Group,  2 SD, 6 MI, 2 SMP, 1  SMA,  1  SMK, 1 Panti Asuhan Putra, 1 Panti Asuhan Putri, 1  Pondok  Pesantren,   2  Rumah Sakit, 1 BTM, 1 KKM, 1 Perumahan Muhammadiyah, 1 Gedung  serbaguna,  dan  90 bidang tanah hak milik/ wakaf yang ada di beberapa Ranting.