muhammadiyahbabat.com – Ketua Kwartir Wilayah Hizbul Wathan (HW) Jawa Timur, Fathurrahim Syuhadi, menyampaikan refleksi mendalam atas 25 Tahun Kebangkitan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan pada acara Pelantikan Kwartir Cabang Hizbul Wathan Babat, Lamongan. Kegiatan tersebut digelar di Gedung Dakwah Muhammadiyah Babat, Sabtu (31/1/2026).
Acara ini diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri atas pimpinan Muhammadiyah, pembina, serta kader Hizbul Wathan dari berbagai unsur, yang hadir untuk meneguhkan kembali peran strategis kepanduan dalam kaderisasi persyarikatan.
Hizbul Wathan Lahir dari Kecerdasan Profetik KH. Ahmad Dahlan
Dalam pidatonya, Fathurrahim Syuhadi menegaskan bahwa Hizbul Wathan lahir dari kecerdasan profetik KH. Ahmad Dahlan dalam membaca realitas sosial dan kebutuhan umat. Ia mengisahkan sepulang dari perjalanan dakwah ke Surakarta pada tahun 1336 H/1918 M, KH. Ahmad Dahlan menyaksikan aktivitas Javaansche Padvinder Organisatie (JPO) di Alun-alun Mangkunegaran.
Pemandangan barisan pemuda yang rapi, disiplin, dan terlatih tersebut memantik gagasan kreatif untuk membangun kepanduan Muhammadiyah sebagai bagian dari dakwah kultural dan pendidikan karakter umat Islam.
Kepanduan sebagai Gerakan Pendidikan Islam
“Dari proses itu lahirlah Padvinder Muhammadiyah yang kemudian bernama Hizbul Wathan pada tahun 1921. Sejak awal, Hizbul Wathan dirancang sebagai gerakan pendidikan Islam yang memadukan iman, akhlak, ketangguhan fisik, dan disiplin sosial,” ujar Fathurrahim Syuhadi yang aktif di Kepanduan Hizbul Wathan sejak tahun 2000.
Ia menambahkan bahwa Hizbul Wathan bukan sekadar wahana latihan kepanduan, melainkan juga laboratorium kaderisasi Muhammadiyah yang berkelanjutan.
Laboratorium Kaderisasi Muhammadiyah
Dalam perjalanan sejarahnya, Hizbul Wathan telah melahirkan banyak kader yang menjadi perintis berdirinya cabang dan ranting Muhammadiyah di berbagai daerah. Nilai-nilai kejujuran, keberanian, kemandirian, serta tanggung jawab sosial ditanamkan secara sistematis melalui Undang-Undang Kepanduan dan semboyan Hizbul Wathan yang terus diikrarkan hingga kini.
Masa Vakum dan Spirit yang Tak Pernah Padam
Namun demikian, perjalanan Hizbul Wathan sempat terhenti akibat kebijakan rasionalisasi kepanduan pada tahun 1960. “Secara organisasi Hizbul Wathan memang berhenti, tetapi secara ideologis ia tidak pernah mati. Spiritnya tetap hidup dan diwariskan di kalangan kader Muhammadiyah,” tegas Wakil Ketua PDM Lamongan tersebut.
Reformasi 1998 dan Titik Balik Kebangkitan
Momentum Reformasi 1998 menjadi titik balik kebangkitan Hizbul Wathan. Melalui Sidang Tanwir Muhammadiyah di Semarang, peran strategis Hizbul Wathan ditegaskan kembali sebagai bagian penting dari sistem kaderisasi Muhammadiyah.
Puncaknya, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menerbitkan SK Nomor 92/SK-PP/VI-B/1.b/1999 yang menetapkan Hizbul Wathan sebagai Organisasi Otonom Muhammadiyah, yang kemudian diperkuat dengan SK Nomor 10/Kep/I.O/B/2003.
Jawa Timur Pelopor Pascakebangkitan Hizbul Wathan
Fathurrahim juga menyoroti keunikan Jawa Timur sebagai Kwartir Wilayah pertama yang dilantik pascakebangkitan Hizbul Wathan, bahkan mendahului Muktamar pertama Kwartir Pusat.
Pada 2 April 2000, Kwartir Wilayah HW Jawa Timur resmi dilantik di Surabaya dengan dihadiri 70 utusan dari 17 PDM se-Jawa Timur. Dari momentum inilah Hizbul Wathan kembali menggeliat, dimotori para mantan pandu era 1950-an serta generasi muda Muhammadiyah.
Meneguhkan Peran Hizbul Wathan di Abad Kedua Muhammadiyah
Menutup refleksinya, Fathurrahim Syuhadi mengajak seluruh kader untuk meneguhkan kembali Hizbul Wathan sebagai gerakan dakwah, tajdid, dan kaderisasi yang relevan dengan tantangan abad kedua Muhammadiyah.
“Refleksi 25 tahun kebangkitan ini harus melahirkan kesadaran kolektif untuk terus merawat dan memajukan Hizbul Wathan sebagai pilar pembentukan kader persyarikatan, keumatan, dan kebangsaan yang berkemajuan,” pungkasnya.
Penulis: Tim Redaksi
Editor: M. Alim Akbar


Komentar