Health & Fitness Kesehatan & Rumah Sakit
Beranda » Berita » Skrining Kanker Serviks: Kesadaran yang Masih Tertinggal

Skrining Kanker Serviks: Kesadaran yang Masih Tertinggal

dr. Dayinta Liris Kawuryan, Sp.O.G (Dokter Spesialis Kandungan RS Muhammadiyah Babat)
dr. Dayinta Liris Kawuryan, Sp.O.G (Dokter Spesialis Kandungan RS Muhammadiyah Babat)

Oleh: dr. Dayinta Liris Kawuryan, Sp.O.G
Dokter Spesialis Kandungan RS Muhammadiyah Babat

muhammadiyahbabat.com Di tengah berbagai kampanye kesehatan yang semakin masif, ada satu hal yang masih sering terabaikan: kesadaran perempuan untuk melakukan skrining kanker serviks. Padahal, Kanker Serviks bukanlah penyakit langka. Justru sebaliknya, ia menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat kanker pada perempuan, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. Ironisnya, banyak kasus baru terdeteksi saat sudah memasuki tahap lanjut, bukan karena tidak bisa dicegah, tetapi karena terlambat disadari.

Kanker serviks adalah kanker yang terjadi di leher rahim, dan menjadi salah satu penyebab utama kematian kanker pada wanita terutama di negara berkembang. Penyakit ini sering terjadi tanpa gejala di tahap awal. Banyak wanita merasa sehat dan tidak memiliki keluhan apa pun, padahal perubahan sel sudah mulai terjadi secara perlahan. Inilah yang membuat kanker serviks sering terlambat terdeteksi, karena baru diketahui setelah memasuki tahap lanjut. Padahal, jika ditemukan sejak dini, penyakit ini sangat bisa dicegah dan diobati.

Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi virus Human Papillomavirus (HPV) yang umumnya ditularkan melalui hubungan seksual. Infeksi ini sering tidak menimbulkan gejala, sehingga banyak wanita tidak menyadarinya. Virus HPV yang menginfeksi dapat menyebabkan perubahan sel di leher rahim yang lama-kelamaan bisa berkembang menjadi kanker.
Karena sering tidak bergejala, cara terbaik untuk melindungi diri adalah dengan melakukan vaksinasi HPV dan juga skrining secara rutin, bisa dengan pemeriksaan HPV DNA, Pap smear, atau keduanya (rekomendasi terbaru). Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi perubahan sel sejak dini, bahkan sebelum berubah menjadi kanker. Jadi, skrining bukan dilakukan saat sudah sakit, tetapi justru saat masih merasa sehat.
Skrining dengan papsmear bisa dimulai dari 3 tahun setelah seorang wanita melakukan hubungan seksual, dan dilakukan setiap 3 tahun.

Dengan melakukan skrining secara rutin, risiko terjadinya kanker serviks bisa ditekan secara signifikan. Pemeriksaan ini umumnya cepat, sederhana, dan tidak membutuhkan waktu lama. Namun manfaatnya sangat besar, karena dapat membantu mendeteksi kanker serviks sejak dini sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan lebih efektif.

‎KWARCAB HW Babat Bentuk Dewan Sugli, Siapkan Kader Militan dan Bertanggung Jawab

Sumber:

  • World Health Organization – Cervical cancer (2023)
  • Centers for Disease Control and Prevention – Cervical Cancer Screening Guidelines
  • Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI), Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) – Skrining Kanker Serviks dan Tindak Lanjut Temuan Abnormal (2023)

Editor: Lady Al Jaatsiyah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *