Opini
Beranda » Berita » Tantangan Generasi Z dalam Menjaga Kaidah Islam Di Era Donald Trump

Tantangan Generasi Z dalam Menjaga Kaidah Islam Di Era Donald Trump

Oleh: M. Najib

muhammadiyahbabat.com – Generasi Z adalah generasi yang lahir dan tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital yang sangat pesat,tak terbatas. Internet, media sosial, dan arus informasi global menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari mereka. Kondisi ini membentuk karakter Generasi Z yang terbuka, kritis, dan cepat beradaptasi. Namun, di balik berbagai kecepatan dan kemudahan tersebut, muncul tantangan besar dalam menjaga kaidah kaidah Islam, terutama yang berkaitan dengan aqidah dan Moralitas akhlak.

Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah (Hablumminallah), tetapi juga membentuk cara berpikir, pola pikir, bersikap, dan berperilaku dalam kehidupan sosial (lebih pada karakter) . Oleh karena itu, ketika aqidah dan akhlak melemah, maka identitas keislaman pun ikut tergerus. Tantangan ini semakin terasa pada Generasi Z yang hidup di era kebebasan berekspresi dan relativisme nilai.

Salah satu tantangan utama Generasi Z dalam menjaga aqidah adalah banjir informasi keagamaan yang tidak semuanya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Media sosial memungkinkan siapa saja berbicara tentang agama, meskipun tidak memiliki dasar keilmuan yang kuat. Akibatnya, Generasi Z rentan menerima pemahaman Islam secara parsial, bahkan keliru. Jika kondisi ini dibiarkan, aqidah yang seharusnya menjadi fondasi hidup justru menjadi rapuh akan melemah.

Padahal Al-Qur’an menegaskan bahwa iman merupakan inti dari kebajikan seorang Muslim. Allah SWT berfirman:

Sinergi PRM–PRA Moropelang dan RSUMB Babat Gelar Pelatihan Perawatan Jenazah

“Bukanlah kebajikan itu hanya menghadapkan wajahmu ke timur dan barat, tetapi kebajikan ialah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi.”(QS. Al-Baqarah: 177)

Ayat ini menunjukkan bahwa aqidah bukan sekadar formalitas, melainkan keyakinan mendalam yang membentuk seluruh aspek kehidupan. Tantangan Generasi Z bukan karena mereka menolak iman, mereka beriman dan mengakuinya, tetapi karena iman sering tidak ditanamkan secara mendalam dan kontekstual.

Selain itu, pengaruh sekularisme dan relativisme nilai juga menjadi tantangan serius. Banyak Generasi Z yang memandang agama sebagai urusan pribadi, terpisah dari urusan sosial dan moral. Kebenaran dianggap relatif, bergantung pada perspektif individu. Pandangan ini jelas bertentangan dengan konsep tauhid dalam Islam yang menempatkan Allah sebagai sumber kebenaran mutlak.

Allah SWT berfirman:

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.”(QS. Muhammad: 19)

‎Napak Tilas Perjuangan Nabi Muhammad di Masjid Quba‎

Ayat ini menegaskan bahwa aqidah Islam menuntut kepatuhan total, bukan sekadar pengakuan simbolik. Ketika tauhid tidak lagi menjadi landasan berpikir, maka nilai-nilai lain akan mudah menggantikan peran agama.

Selain aqidah, tantangan besar lainnya adalah menjaga akhlak, khususnya di ruang digital. Media sosial sering kali mendorong perilaku impulsif, seperti berkata kasar, menghina, menyebarkan kebencian, dan meremehkan orang lain. Banyak Generasi Z yang merasa bebas berbicara tanpa mempertimbangkan dampak moral dari ucapannya.

Islam sangat menekankan pentingnya akhlak dalam kehidupan sosial. Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain…”(QS. Al-Hujurat: 11)

Ayat ini relevan dengan kondisi saat ini, terutama dalam penggunaan media sosial. Dunia digital bukan ruang bebas nilai, melainkan bagian dari kehidupan yang juga harus diatur oleh etika Islam dalam Al Quran dan Al Hadist.

Perspektif Tahun Baru dalam Islam: Momentum Evaluasi, Muhasabah, dan Penguatan Iman

Tantangan akhlak juga diperparah oleh kurangnya keteladanan. Generasi Z hidup di tengah krisis figur panutan. Banyak tokoh publik yang tidak menunjukkan konsistensi antara ucapan dan perbuatan. Padahal, akhlak tidak cukup diajarkan melalui teori, tetapi harus dicontohkan secara nyata.

Al-Qur’an menegaskan bahwa Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam akhlak:

“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”(QS. Al-Qalam: 4)

Keteladanan inilah yang seharusnya dihadirkan kembali dalam keluarga, pendidikan, dan ruang publik agar Generasi Z memiliki rujukan moral yang jelas.

Meskipun demikian, penting untuk ditegaskan bahwa Generasi Z bukan generasi yang anti terhadap Islam. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mereka justru tertarik pada agama yang disampaikan secara rasional, relevan, dan sesuai dengan realitas hidup mereka. Tantangan yang ada lebih disebabkan oleh cara penyampaian nilai Islam yang kurang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Solusi utama dalam menghadapi tantangan ini adalah penguatan aqidah dan akhlak yang kontekstual, bukan sekadar normatif. Pendidikan Islam harus mampu mengaitkan nilai tauhid dengan kehidupan sehari-hari, termasuk dalam dunia digital. Akhlak juga perlu diajarkan sebagai bagian dari ibadah, bukan hanya aturan sosial.

Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT:

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah memiliki dampak langsung terhadap pembentukan akhlak. Jika ibadah dipahami secara benar, maka ia akan melahirkan perilaku yang baik.

Tantangan Generasi Z dalam menjaga kaidah Islam merupakan refleksi dari perubahan zaman yang sangat cepat. Namun, tantangan ini bukan alasan untuk pesimis. Dengan penguatan aqidah yang kokoh, akhlak yang diteladankan, serta pendekatan dakwah modern dan pendidikan yang relevan, Generasi Z justru memiliki potensi besar untuk menjadi generasi Muslim yang beriman, berakhlak, dan berdaya saing di era Donal trump.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *