muhammadiyahbabat.com – Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Babat menggelar penilaian terhadap Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) di lingkungan Cabang Babat. Kegiatan tersebut mendapat antusiasme tinggi dari hampir seluruh ranting yang ada di wilayah PCM Babat.
Penilaian tidak sekadar menjadi ajang evaluasi, tetapi juga menjadi ruang bagi masing-masing ranting untuk saling berbagi pengalaman, mempresentasikan program unggulan, sekaligus melihat berbagai tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan dakwah Muhammadiyah di tingkat ranting.
Dalam kegiatan tersebut, para Pimpinan Ranting memaparkan berbagai aktivitas yang telah dilaksanakan. Mulai dari pembinaan jamaah, kegiatan dakwah dan sosial, hingga program ekonomi unggulan yang dikembangkan masing-masing ranting.
Pada Sabtu, 3 Oktober 2026, hadir sebagai peserta penilaian empat PRM, yakni PRM Gembong, PRM Sumurgenuk, PRM Babat Barat, dan PRM Moropelang. Masing-masing ranting mempresentasikan berbagai keunggulan, kegiatan, serta perkembangan organisasi di wilayahnya.
Usai seluruh ranting menyampaikan presentasi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama tim LPCR PCM Babat. Hadir dalam kegiatan tersebut Bapak Imam Taufik, Bapak Imam Syafii, dan Bapak Abdul Malik. Sementara itu, sekretaris PCM Babat, Bapak Nurhadi, bersama bendahara Bapak Kondang Sahly, turut mengatur ritme jalannya kegiatan.
Berbagai pertanyaan dilontarkan kepada para Pimpinan Ranting, terutama terkait suka duka dalam menjalankan kegiatan, perkembangan jamaah, hingga tantangan yang dihadapi dalam menghidupkan dakwah Muhammadiyah di tingkat desa.
Para peserta pun menjawab setiap pertanyaan dengan penuh semangat berdasarkan pengalaman masing-masing ranting.
Namun, dari sesi tanya jawab tersebut muncul satu pertanyaan menarik yang kemudian menjadi temuan penting sekaligus pekerjaan rumah bersama, yaitu mengenai perkembangan jumlah anggota dan jamaah Muhammadiyah.
Sekretaris LPCR PCM Babat, Imam Taufik, menanyakan kepada para pimpinan ranting,
“Apakah ada anggota atau jamaah yang bertambah atau malah berkurang?”
Pertanyaan tersebut kemudian mendapat jawaban yang beragam dari masing-masing ranting.
Billy dari PRM Gembong menyampaikan bahwa jumlah anggota di rantingnya relatif tetap.
“Anggota Ranting Muhammadiyah alhamdulillah tetap, meskipun ada yang datang dan pergi,” ujarnya.
Sementara itu, Ismail dari PRM Babat Barat menyampaikan kondisi yang cukup positif.
“Alhamdulillah, tetap dan semangat bertambah,” terangnya.
Hal senada disampaikan Eko dari PRM Sumurgenuk. Ia menjelaskan bahwa jumlah jamaah di wilayahnya untuk sementara masih relatif sama.
“Jamaah kami sementara ya masih segitu,” ujarnya sembari menjelaskan kondisi masyarakat di Desa Sumurgenuk.
Sementara itu, PRM Moropelang memiliki karakteristik jamaah yang berbeda. Ahmad Muflich menjelaskan bahwa jamaah Muhammadiyah Moropelang tidak hanya berasal dari Desa Moropelang, tetapi juga berasal dari beberapa desa di sekitarnya.
“Jamaah Moropelang terdiri dari desa-desa sebelah. Ada dari Tesan, Kebon Agung, Balandono dan sekitarnya,” terangnya.
Persoalan yang lebih mendalam kemudian disampaikan Najib dari PRM Moropelang. Menurutnya, perkembangan jumlah jamaah Muhammadiyah, khususnya generasi muda, memiliki hubungan erat dengan kondisi ekonomi dan lapangan pekerjaan di lingkungan sekitar.
“Menurut kajian PRM Moropelang, jumlah anggota atau jamaah Muhammadiyah di ranting berbanding lurus dengan jumlah warga yang bekerja di AUM terdekat,” jelasnya.
Ia menilai, mempertahankan generasi muda agar tetap aktif dalam jamaah menjadi tantangan tersendiri apabila di desa tidak tersedia lapangan pekerjaan yang memadai.
“Bagaimana jamaah kita, terutama yang muda, tidak lari kalau di desa ini tidak ada pekerjaan untuk mereka?” ungkapnya.
Menurut Najib, kondisi tersebut semakin terasa ketika banyak Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) berada di wilayah Babat, tetapi belum sepenuhnya mampu mengakomodasi para pemuda dari desa-desa sekitar.
“Di Babat banyak AUM, tetapi belum bisa mengakomodasi pemuda-pemuda yang ada di desa kita. Akhirnya masjid Muhammadiyah di desa kosong, dihuni para pensiunan saja,” terangnya.
Pernyataan tersebut kemudian mendapat tambahan dari Eko, PRM Sumurgenuk. Ia mengungkapkan adanya persoalan lain yang juga perlu mendapat perhatian, yakni mekanisme rekomendasi bagi warga Muhammadiyah yang bekerja di AUM.
“Apalagi ada temuan, ada karyawan AUM yang tidak meminta rekomendasi PRM setempat, tetapi bisa bekerja di AUM. Saya juga bingung, dapat rekomendasi dari siapa?” tanyanya.
Temuan dan kegelisahan tersebut langsung mendapat respons dari PCM Babat. Sekretaris PCM Babat, Nurhadi, S.Pd., M.E., menyampaikan bahwa PCM telah menyiapkan langkah evaluasi terhadap pengelolaan sumber daya manusia di lingkungan AUM.
“Kita sudah membuat instruksi untuk para pimpinan AUM agar ada Monev bagi karyawan. Kita akan sampaikan instruksinya segera,” tegasnya.
Pertanyaan sederhana tentang bertambah atau berkurangnya jamaah akhirnya membuka persoalan yang lebih luas: bagaimana Muhammadiyah mampu mempertahankan generasi muda, menyediakan ruang pengabdian, sekaligus menghadirkan ekosistem ekonomi yang membuat warga Muhammadiyah tetap tumbuh dan bertahan di rantingnya.
Penilaian LPCR PCM Babat pun akhirnya tidak hanya menjadi kegiatan administratif untuk melihat capaian ranting. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi ruang untuk menemukan persoalan nyata di lapangan dan mencari solusi bersama.

Dari ranting, muncul temuan. Dari temuan, lahir evaluasi. Dan dari evaluasi, diharapkan lahir langkah nyata untuk membesarkan Muhammadiyah di Cabang Babat.
Penulis: M. Najib
Editor: Lady Al Jaatsiyah





Komentar