Oleh: M. Alim Akbar
Anggota Majelis Pustaka Informasi dan Digitalisasi PCM Babat
muhammadiyahbabat.com – Segigih apa pun manusia mengejar sesuatu yang tidak ditakdirkan untuknya, ia tidak akan pernah menjadi miliknya. Sebaliknya, sesuatu yang telah Allah tetapkan untuk seseorang akan menemukan jalannya sendiri, meskipun berbagai keadaan seolah-olah berusaha menghalanginya.
Di sinilah manusia perlu memahami makna takdir secara lebih dewasa, bukan sebagai alasan untuk berhenti berusaha, melainkan sebagai keyakinan bahwa hasil akhir berada dalam kekuasaan Allah SWT. Keyakinan tersebut membuat seseorang tetap bekerja keras ketika memiliki kesempatan, tetapi tidak menghancurkan dirinya ketika kenyataan berjalan berbeda dari harapan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
يَمْحُوا اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِندَهُ أُمُّ الْكِتَابِ
“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya terdapat Ummul-Kitab (Lauhul Mahfuzh).”
(QS. Ar-Ra’d: 39)
Ayat tersebut mengingatkan manusia bahwa kehidupan tidak berjalan semata-mata berdasarkan keinginan dirinya. Ada kehendak Allah yang berada di atas pengetahuan manusia, sehingga tugas seorang hamba adalah menjalani kehidupannya dengan ikhtiar, doa, kesabaran, dan tawakal.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menyaksikan seseorang berusaha sangat keras untuk memperoleh pekerjaan, mempertahankan hubungan, mendapatkan rezeki, atau mencapai cita-cita tertentu, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Pada saat yang sama, orang lain mungkin menempuh jalan yang sederhana, tetapi justru memperoleh sesuatu yang selama ini ia harapkan.
Keadaan tersebut bukan berarti usaha tidak memiliki nilai di hadapan Allah. Islam justru memerintahkan manusia untuk mengambil sebab dan mengerahkan kemampuan terbaiknya, sedangkan hasil akhirnya hendaknya diserahkan kepada Allah SWT.
Rasulullah saw. bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ
“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu lemah.”
(HR. Muslim)
Hadis tersebut memberikan keseimbangan yang penting dalam kehidupan seorang Muslim. Manusia tidak boleh menggunakan takdir sebagai alasan untuk bermalas-malasan, tetapi juga tidak seharusnya menggantungkan kebahagiaan sepenuhnya pada hasil yang berada di luar kendalinya.
Takdir Mengajarkan Tauhid
Pada titik inilah pembahasan mengenai takdir memiliki hubungan erat dengan tauhid. Seorang Muslim yang memahami tauhid akan menyadari bahwa tidak ada kekuatan yang berdiri sendiri di luar kehendak Allah SWT.
Tauhid bukan sekadar pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan, tetapi juga keyakinan yang seharusnya membentuk cara manusia berpikir, memilih, mencintai, berharap, takut, dan menghadapi kehidupan. Ketika hati benar-benar bergantung kepada Allah, manusia tidak mudah menjadikan pekerjaan, harta, jabatan, maupun manusia lain sebagai tempat bergantung secara mutlak.
Karena itu, tauhid juga mengajarkan manusia untuk menempatkan hawa nafsu pada posisi yang benar. Manusia harus mampu memimpin syahwat, bukan membiarkan syahwat memimpin manusia.
Syahwat dalam kehidupan tidak hanya berkaitan dengan keinginan biologis, tetapi juga dapat muncul dalam bentuk ambisi berlebihan, keinginan memiliki seseorang, kecintaan terhadap harta, hasrat memperoleh pengakuan, dan dorongan untuk mendapatkan sesuatu tanpa mempertimbangkan batas yang Allah tetapkan. Ketika syahwat mengambil alih kendali, manusia mudah memaksakan kehendak dan menganggap sesuatu harus menjadi miliknya hanya karena ia sangat menginginkannya.
Padahal, tidak semua yang kita inginkan merupakan sesuatu yang baik bagi kehidupan kita. Bisa jadi manusia mengejar seseorang karena perasaan yang begitu kuat, padahal Allah justru sedang mengarahkannya kepada jalan yang berbeda.
Begitu pula dalam urusan jodoh, manusia boleh mengenal, memilih, berkomunikasi, memperbaiki diri, dan melakukan ikhtiar dengan cara yang sesuai syariat. Namun, setelah semua ikhtiar dilakukan, hati tidak seharusnya memaksa Allah agar memberikan seseorang hanya karena kita merasa tidak mampu hidup tanpanya.
Jodoh pun dapat diibaratkan seperti sesuatu yang dibiarkan mengalir mengikuti ketetapan Allah. Manusia tetap perlu berjalan, memperbaiki diri, membuka kesempatan, dan berdoa, tetapi ia tidak perlu memaksa satu nama menjadi akhir dari seluruh kehidupannya.
Jika seseorang memang menjadi bagian dari takdirnya, Allah dapat mempertemukannya melalui jalan yang tidak pernah ia bayangkan. Sebaliknya, apabila seseorang bukan bagian dari ketetapannya, mempertahankannya dengan segala cara tidak selalu membuat hubungan tersebut menjadi milik kita.
Rezeki Tidak Selalu Datang dari Jalan yang Kita Duga
Hal serupa dapat kita lihat dalam urusan rezeki. Ada orang yang bekerja sejak pagi hingga malam, tetapi penghasilannya terasa belum mencukupi, sedangkan orang lain memperoleh peluang besar melalui jalan yang sebelumnya tidak pernah ia perkirakan.
Allah SWT berfirman:
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.”
(QS. At-Talaq: 3)
Ayat tersebut bukan ajakan untuk menunggu rezeki tanpa bekerja. Tawakal justru mengajarkan manusia untuk berusaha melalui jalan yang benar, kemudian mempercayakan hasilnya kepada Allah dengan hati yang tenang.
Rezeki juga tidak selalu berbentuk uang atau materi. Kesehatan, keluarga yang baik, kesempatan belajar, lingkungan yang mendukung, ketenangan hati, dan kesempatan melakukan kebaikan merupakan bagian dari nikmat yang sering kali baru kita sadari setelah kehilangannya.
Ketika Kegagalan Menjadi Jalan Baru
Demikian pula dengan perjalanan hidup yang terkadang tidak berjalan sesuai rencana. Seseorang mungkin bermimpi menjadi dokter, tetapi Allah membawanya menjadi guru yang memberikan manfaat besar kepada banyak generasi.
Orang lain mungkin gagal dalam pekerjaan yang sangat diinginkannya, lalu menemukan bidang baru yang justru membuat kehidupannya berkembang. Pada akhirnya, kegagalan tidak selalu berarti kehidupan sedang menghukum kita, karena bisa jadi Allah sedang mengarahkan kita menuju jalan yang belum mampu kita lihat.
Karena itu, lapang dada menerima takdir bukan berarti menyerah sebelum berusaha. Sikap tersebut justru menunjukkan kedewasaan iman, yaitu kemampuan untuk berikhtiar secara maksimal sekaligus menerima keputusan Allah dengan hati yang tetap percaya.
Ada kalanya manusia menangis karena kehilangan sesuatu yang sangat ia cintai. Namun, setelah waktu berlalu, ia baru menyadari bahwa sesuatu yang dahulu dianggap sebagai kehilangan ternyata menjadi pintu menuju kehidupan yang lebih baik.
Dalam ungkapan yang sering disampaikan para ulama:
مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ
“Apa yang ditakdirkan untukmu tidak akan meleset darimu, dan apa yang tidak ditakdirkan untukmu tidak akan pernah sampai kepadamu.”
Pemahaman seperti ini dapat membuat hati lebih tenang ketika menghadapi penolakan, kehilangan, kegagalan, maupun perpisahan. Manusia tetap boleh bersedih, tetapi kesedihan itu tidak semestinya membuatnya kehilangan keyakinan kepada Allah SWT.
Maka, jangan berhenti berusaha hanya karena takut gagal, tetapi jangan pula menyiksa diri karena sesuatu yang telah berlalu. Lakukan bagian yang menjadi tanggung jawab kita, kendalikan syahwat agar tidak menguasai keputusan, kemudian serahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.
Pada akhirnya, tauhid mengajarkan manusia bahwa Allah adalah tempat bergantung yang paling utama. Ketika hati telah tertambat kepada Allah, seseorang dapat mengejar dunia tanpa diperbudak dunia, mencintai seseorang tanpa kehilangan Allah, serta mengejar rezeki tanpa melupakan siapa yang memberikan rezeki.

Sebab, hidup bukan tentang mendapatkan semua yang kita inginkan. Hidup adalah tentang menjalani setiap ketetapan Allah dengan ikhtiar terbaik, doa yang tulus, hati yang bertawakal, dan keyakinan bahwa apa pun yang datang dari-Nya memiliki hikmah yang mungkin belum mampu kita pahami hari ini.
Editor: FA





Komentar