AUM Opini
Beranda » Berita » “Pentingnya” Penghargaan Karyawan Amal Usaha Muhammadiyah sebagai Peneguhan Kader Tulen

“Pentingnya” Penghargaan Karyawan Amal Usaha Muhammadiyah sebagai Peneguhan Kader Tulen

Muhammadiyahbabat.com – Penghargaan bagi karyawan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang aktif menjadi penggerak Persyarikatan atau Organisasi Otonom Muhammadiyah sebagaimana direkomendasikan dalam Sidang Komisi rekomendasi Musycab Muhammadiyah Cabang Babat adalah langkah strategis, visioner, dan sangat mendesak. Kebijakan ini bukan sekadar bentuk apresiasi personal, melainkan peneguhan nilai dasar Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah, tajdid, dan kaderisasi yang berkelanjutan.

AUM pada hakikatnya bukan hanya institusi pelayanan di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, atau ekonomi. AUM adalah alat perjuangan Persyarikatan. Karena itu, karyawan AUM idealnya bukan sekadar pekerja profesional, tetapi juga kader Muhammadiyah yang hidup, bergerak, dan berjuang dalam denyut organisasi. Penghargaan bagi mereka yang aktif sebagai pengurus Muhammadiyah atau Ortom menjadi pembeda yang tegas antara kader tulen dan mereka yang “dadakan” menjadi kader semata-mata karena kepentingan pekerjaan.

Tanpa disadari, dalam praktik sehari-hari, AUM berpotensi melahirkan generasi “pegawai Muhammadiyah” tetapi miskin ruh Muhammadiyah. Mereka hadir tepat waktu, bekerja sesuai kontrak, tetapi tidak memiliki keterikatan ideologis, historis, dan emosional dengan Persyarikatan. Dalam jangka panjang, kondisi ini berbahaya. AUM bisa kehilangan jati diri, dan Muhammadiyah kehilangan kader. Maka, penghargaan ini menjadi pesan moral yang kuat bahwa Muhammadiyah merawat AUM dengan orang-orang yang tepat, yaitu mereka yang berMuhammadiyah secara kaffah.

Lebih jauh, penghargaan tersebut juga berfungsi sebagai penyemangat dan teladan. Karyawan AUM akan memahami bahwa loyalitas ideologis, pengabdian organisasi, dan keterlibatan aktif di Persyarikatan memiliki nilai yang diakui. Ini bukan tentang mencari fasilitas tambahan, melainkan membangun kebanggaan menjadi kader Muhammadiyah yang utuh: bekerja dengan profesional, berorganisasi dengan ikhlas, dan berdakwah dengan konsisten.

Penghargaan ini juga merupakan proses kaderisasi yang sangat tepat. Kader yang aktif di Muhammadiyah akan hafal betul sejarah perjuangan di daerahnya: siapa yang merintis, siapa yang berkorban, dan siapa yang menanamkan fondasi AUM. Kesadaran sejarah ini penting agar tidak terputus mata rantai perjuangan. Tanpa itu, akan terus muncul kekecewaan di kalangan generasi pejuang Muhammadiyah.

“Nganyari” Masjid At-Taqwa, Warga Muhammadiyah Pucakwangi Sambut Ramadhan dengan Optimisme

Ironi yang sering terdengar bahkan menyayat hati adalah kisah pejuang Muhammadiyah yang rela menjaminkan sertifikat rumahnya ke bank demi pengembangan AUM, tetapi anaknya justru merasa tidak mendapat penghargaan, bahkan ditolak bekerja di AUM meski memiliki kompetensi yang sesuai. Na’udzubillah. Kisah semacam ini tidak boleh terus berulang. Muhammadiyah harus hadir dengan kebijakan yang berkeadilan, berkepekaan sejarah, dan berjiwa kaderisasi.

Akhirnya, penghargaan bagi karyawan AUM yang aktif ber-Muhammadiyah bukanlah bentuk eksklusivitas sempit, melainkan ikhtiar menjaga marwah Persyarikatan. Agar AUM tetap menjadi ladang amal, bukan sekadar tempat kerja. Agar Muhammadiyah tetap besar, bukan hanya karena aset, tetapi karena kader-kadernya yang setia, militan, dan berintegritas.

Penulis : M. Najib Editor : Lady Al Jaatsiyah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *