Oleh: Amrozi Mufida
Anggota LPHU PDM Lamongan, Wakil Ketua PCM Babat, Ketua DP AIK RSUM Babat, dan Sekretaris MUI Kecamatan Babat
muhammadiyahbabat.com – Meneguhkan komitmen Bermuhammadiyah di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) merupakan kebutuhan mendasar yang tidak dapat ditawar. AUM bukan sekadar ruang kerja profesional, melainkan bagian integral dari gerakan dakwah dan tajdid yang dibangun oleh Muhammadiyah. Oleh karena itu, kualitas ideologis dan sikap keberislaman karyawan AUM menjadi penentu kuat atau rapuhnya arah Persyarikatan di masa depan.
Dalam realitasnya, masih ditemukan sejumlah persoalan ideologis di kalangan karyawan AUM yang perlu segera dibenahi secara sistematis. Pertama, kerapuhan ideologi Muhammadiyah yang tampak dari sikap ragu dan mudah goyah terhadap manhaj Persyarikatan. Kondisi ini terlihat ketika sebagian karyawan bekerja di lingkungan Muhammadiyah, tetapi praktik sosial-keagamaannya tetap mengikuti tradisi organisasi lain seperti Nahdlatul Ulama, yang oleh Prof. Dr. H. Abdul Munir Mulkhan disebut sebagai fenomena MUNU, yakni Muhammadiyah-NU.
Kedua, terjadi pergeseran ideologi yang ditandai dengan munculnya ketertarikan terhadap paham-paham di luar Muhammadiyah. Sebagian karyawan AUM mulai tertarik pada ideologi Salafi, HTI, FPI, dan sejenisnya. Ketertarikan tersebut berimplikasi serius pada melemahnya keyakinan, komitmen, serta loyalitas terhadap Muhammadiyah sebagai rumah ideologis bersama.
Ketiga, pembangkangan ideologis juga menjadi persoalan yang patut mendapat perhatian. Ada karyawan yang mencari nafkah di AUM, tetapi di luar justru kerap melontarkan kritik destruktif dan mencitrakan Muhammadiyah secara negatif. Sikap semacam ini bukan hanya melukai etika organisasi, tetapi juga berpotensi merusak kepercayaan dan semangat kolektif Persyarikatan.
Meneguhkan komitmen Bermuhammadiyah di AUM menjadi sangat penting karena keberlanjutan Persyarikatan hanya dapat dijaga melalui perkaderan yang konsisten dan berkelanjutan. Komitmen tersebut setidaknya harus dirawat melalui tiga aspek utama. Pertama, penguatan pemahaman nilai-nilai Islam sesuai dengan faham Muhammadiyah. Karyawan AUM perlu terus dibina agar memahami Islam dalam bingkai Rumus 3M 1R, yakni Murni, Moderat, Modern, dan Rahmatan lil ‘Alamin.
Islam murni menekankan kemurnian akidah dan ibadah, sedangkan Islam moderat menempatkan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam tengahan yang tidak ekstrem ke kanan maupun ke kiri. Islam modern menegaskan sikap adaptif terhadap kemajuan zaman, sejalan dengan spirit Islam Berkemajuan. Sementara itu, Islam rahmatan lil ‘alamin menuntut agar ajaran Islam menghadirkan keberkahan dan kemanfaatan, tidak hanya bagi umat Islam, tetapi juga bagi seluruh manusia dan alam semesta.
Kedua, karyawan AUM dituntut untuk menjunjung tinggi profesionalitas kerja. Amanah pekerjaan harus dijalankan secara optimal, tidak disepelekan, dan selalu mengacu pada standar mutu yang tinggi. Profesionalitas ini akan berdampak langsung pada kemajuan AUM, sekaligus menjadi cerminan etos kerja Islami yang melekat pada Muhammadiyah. Di samping itu, keterlibatan aktif dalam struktur Persyarikatan maupun organisasi otonom Muhammadiyah juga perlu didorong agar identitas ideologis tidak terlepas dari aktivitas keseharian.
Ketiga, karyawan AUM diharapkan terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan Muhammadiyah. Partisipasi tersebut dapat diwujudkan melalui keikutsertaan dalam salat berjamaah di masjid atau musala Muhammadiyah, menghadiri pengajian, mendukung pendanaan kegiatan, hingga terlibat sebagai panitia dalam berbagai agenda Persyarikatan. Keterlibatan ini menjadi sarana internalisasi nilai dan penguatan rasa memiliki terhadap Muhammadiyah.
Meneguhkan komitmen Bermuhammadiyah di AUM juga bermakna menempatkan pekerjaan sebagai panggilan ibadah dan dakwah. Al-Qur’an menegaskan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah sebagaimana termaktub dalam QS Adz-Dzariyat (51): 56. Selain itu, bekerja di AUM merupakan bagian dari panggilan dakwah amar makruf nahi munkar, sebagaimana ditegaskan dalam QS Ali Imran (3): 104, sekaligus mengemban visi profetik Muhammadiyah untuk melahirkan khoiru ummah sebagaimana QS Ali Imran (3): 110.
1. Panggilan Ibadah dalam Bekerja
QS. Adz-Dzariyat (51): 56
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
Ayat ini menegaskan bahwa seluruh aktivitas manusia, termasuk bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah, pada hakikatnya merupakan bagian dari pengabdian kepada Allah Swt. Dengan demikian, pekerjaan di AUM tidak boleh dipahami semata sebagai rutinitas profesional, tetapi harus diniatkan sebagai ibadah yang dijalankan dengan penuh tanggung jawab, keikhlasan, dan kesungguhan.
2. Panggilan Dakwah Amar Makruf Nahi Munkar
QS. Ali Imran (3): 104
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya:
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”
Ayat ini menjadi landasan utama dakwah Muhammadiyah. Bekerja di AUM berarti terlibat langsung dalam gerakan dakwah tersebut, baik melalui keteladanan sikap, profesionalitas kerja, maupun kontribusi nyata dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat.
3. Visi Profetik Mewujudkan Khoiru Ummah
QS. Ali Imran (3): 110
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
Artinya:
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”
Ayat ini menjadi pijakan visi profetik Muhammadiyah dalam membentuk insan-insan unggul yang beriman, berilmu, dan beramal. Karyawan AUM diposisikan sebagai bagian dari umat terbaik yang diharapkan mampu menghadirkan kemaslahatan, tidak hanya di lingkungan kerja, tetapi juga dalam kehidupan sosial yang lebih luas.
Komitmen tersebut semakin kuat ketika dipadukan dengan empat etos kerja Muhammadiyah. Etos itqan menuntut profesionalisme dan keunggulan dalam setiap pekerjaan, sedangkan amanah menegaskan pentingnya integritas dan tanggung jawab. Etos tajdid mendorong inovasi dan pembaruan berkelanjutan, sementara khoirunnas menegaskan bahwa setiap hasil kerja harus memberikan kemanfaatan sosial yang luas.
Dengan demikian, meneguhkan komitmen Bermuhammadiyah di AUM bukan sekadar agenda organisatoris, melainkan ikhtiar ideologis, profesional, dan spiritual. Komitmen inilah yang akan menjaga AUM tetap berada pada jalur dakwah, berdaya saing, dan berkontribusi nyata bagi umat serta bangsa.
Editor: M. Alim Akbar


Komentar